Galakkan Penghijauan, Warga RW 10 Pabean Tanam Pohon Koptri Dalam Kampung - KIM Nyamplungan

Breaking

Friday, November 20, 2020

Galakkan Penghijauan, Warga RW 10 Pabean Tanam Pohon Koptri Dalam Kampung

 Galakkan Penghijauan, Warga RW 10 Pabean Tanam 

Pohon Koptri Dalam Kampung


Foto : Warga RT 1 gang Ketapang 3 - RW 10 Kel. Nyamplungan  terlihat
mengangkat pohon koptri.

Surabaya - Sudah selayaknya perkampungan di Surabaya menginisiasi program kampung bersih, hijau, aman dan nyaman untuk ditempati. Mengingat sudah banyak kampung bersih dan hijau di Surabaya, sebut saja kampung wisata Maspati, dan kampung binaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya lainnya. Tidak hanya hijau dan bersih, kampung - kampung hijau di Surabaya juga memanfaatkan tanaman obat (Toga) dan pohon yang berbuah ( sehingga ada sebutan kampung mangga ) yang ada disekiling perkampungannya, hal inilah kemudian yang diolah dan dimanfaatkan oleh warga setempat. Oleh karenanya penting untuk menyadarkan warga untuk lebih memperhatikan lingkungan kampungnya. Tidak terkecuali yang terjadi di perkampungan Pabean, tepatnya di Gang Ketapang 3 wilayah RW 10 Kelurahan Nyamplungan Surabaya. Kamis (19/11/2020).


Berbeda dengan perkampungan di tengah kota atau di pemukiman yang jauh dari keramaian, Penghijauan tersebut di lakukan di perkampungan yang berdampingan dengan Pasar Pabean atau di perkampungan Pabean, gang Ketapang 3. Unik, karena yang ditanam oleh warga disana adalah tanaman untuk pembersih udara, seperti sansivera / lidah mertua,  tanaman pucuk merah hingga Pohon Koptri. Pohon ini sengaja di tanam oleh warga untuk membersihkan kualitas udara disana, selain tentunya juga memberikan kesan alami dan nyaman di kampung tersebut.

 

Setiap hari aktifitas warga di kampung tersebut adalah berjualan atau berdagang di Pasar, sehingga tidak heran jika terlihat banyak hilir mudik kuli angkut bawang merah atau bawang putih yang keluar masuk disana, sebagian rumah juga sudah dijadikan gudang penyimpanan dan mengupas bawang putih, sehingga sudah biasa bau kotoran dan kulit bawang putih dan merah di perkampungan tersebut.

 

Hal ini dibenarkan oleh Ismail, Ketua RW 10, "memang aktifitas warga disini kebanyakan jualan di sekitar kampung ataupun di dalam pasar, sebagian rumah juga sudah beralih menjadi gudang, sehingga kenapa perlunya untuk kembali menggiatkan penghijauan seperti yang sebelumnya telah dilakukan oleh sesepuh yang terdahulu, yang berbeda sekarang kami menanam pohon Koptri disni, ujar Ismail.

Foto: Warga menanam pohon koptri


Ismail tidak menampik jika giat penghijauan tersebut juga turut didukung oleh pemuda setempat serta warga yang kemudian sadar akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar. " disini dalam melakukan giat penghijauan ini tidak bisa kemudian terburu -buru dan memaksa warga, melainkan lebih kepada kesadarannya masing -masing, kalau hal ini baik dilakukan kenapa tidak, pemuda setempat juga kami libatkan, seperti jenis tanaman dan pemilihan penanaman pohon, hingga akhirnya jatuh pada pilihan Pohon koptri".tambahnya.


Pohon koptri tidak asing di Surabaya, puluhan jenis pohon tersebut sudah ditanam oleh Pemkot Surabaya di sepanjang kawasan Jalan Tunjungan dan kawasan sekitar dalam rangka mewujudkan program Surabaya ramah pejalan kaki sejak tahun 2018 lalu. Tidak hanya menyerap polusi, pohon ini juga jenis pohon peneduh, dan pohon ini tumbuh lebih cepat.

 

Pasar Pabean yang merupakan pasar tradisional tertua di Surabaya, seakan menjadi saksi hilangnya bentuk asli pemukiman / rumah -rumah warga yang sejak masa kolonial menempati kawasan yang berdampingan dengan Pasar yang sudah ada sejak tahun 1849 tersebut. Hilangnya rumah warga bukan tanpa alasan, melainkan karena perkembangan pesat perekonomian di kawasan tersebut sehingga menyebabkan terjadinya perubahan sosial yang signifikan dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun diperparah pasca kebakaran hebat melanda Pasar Pabean dan perkampungannya pada tahun 2004 silam.  


Dampaknya kebanyakan rumah - rumah warga di perkampungan tersebut dijual dan berubah, beralih fungsi menjadi gudang atau rumah toko (ruko) dengan desain modern. Sehingga tidak lagi dikenali sebagai hunian, hingga muncul sebutan kampung Pasar, karena perkampungannya sudah menjadi bagian dari Pasar Pabean. Hal ini tentu mengundang pertanyaaan mengenai lahan dan batas Pasar Pabean yang  sebenarnya, sehingga harus jelas batas antara mana perkampungan dan Pasar Pabean. Semoga apa yang dilakukan oleh para warga tersebut bisa memberi hasil yang positif kedepannya dalam hal menata kampung mereka menjadi lebih baik. (sq)  

 




No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad